Beranda > Lain-Lain, Personality > Pendekar Ruang Sempit

Pendekar Ruang Sempit

Berpikir luas di ruang sempit “adalah kata-kata yang perlu kembali ditelaah oleh manusia. Manusia siapapun mereka terlepas dari strata status sosialnya ternyata sangat pandai memasuki dan hidup dalam ruang dan waktu. Bermalu dalam ruang dan waktu adalah kesenangan manusia. Berbicara konteks “ ruang “ wilayah areal tempat manusia hidup dan mengaktualisasikan diri, cakupannya luas dalam kehidupan manusia. ruang dan segi-segi kehidupan yang dimasuki oleh manusia antara lain, “ruang keluarga, lingkungan masyarakat dan organisasi-organisasinya, lingkup ruang negara dan dunia dengan komplekstias persoalannya seperti masalah-masalah sosial, ekonomi, budaya, politik, hankam dan lainnya.

Bahkan di Era Global sekarang ini sekarang ini dengan pesatnya kemajuan ilmu dan teknologi, manusia kini tidak bisa dibatasi oleh batasan-batasan sekat-sekat ruang dan waktu (sebuah virtual friendsip). Hidup dan bermain dalam ruang adalah fitrah mansuia. Bayangkan dari dalam ruang sempit, calon akal manusia yaitu sperma dengan kapasitas kurang lebih sekatar 2,5 Cc dan terdiri dari sekitar 3 juta sel makhluk hidup dalam pertemuannya membuahi sel telur (ovum), disana  didalam rahim seorang ibu terjadi pergulatan hidup yang sehat diantara ke 3 juta sel dalam merebut tempat dan hidup sebagai embrio. Dalam hitungan kalkulasi matematika, 1 dibagi 3 juta adalah nihil atau nol. Tapi Sang Maha Kuasa dengan kehendakNya berkata lain.Dari ke 3 juta sel-sel makhluk hidup dan pergulatannya yang hebat bagaimanapun juga satud arinya harus menang dan muncul kepermukaan sebagai calon anak manusia (sebuah seleksi alam).

Sungguh-sungguh excited dan fantastis…., satu sel yang eksis dalam kompetisi hidup dalam kandungan seorang ibu mampu bertahan hdiup berkembang menjadi segumpal darah, menjadi embrio lalu pada saatnya berita kelahirannya ketengah dunia menjadi berita gembira bahagia keluarga [ayah dan ibu) sebagai buah hati yang ditunggu-tunggu sebagai penerus garis keturunan keluarga dan generasi baru dari masyarakat dan bangsanya.

Sehubungan dengan romantisme historis ini…., prefectifitas manusia dan metamorfosisnya diarena ruang dan waktu adalah lakon hidup yang harus dijalani. Menatap perjalanan manusia sebagai Homo Edukandum dan citra dirinya (imagologi) sebagai makhluk multidimensional yang bermartabat tinggi, maka penulis yang tak lain berprofesi sebagai “guru dan pendidik” melalui wacana ini ingin mengajak kepedulian segenap komponen masyarakat yang ada untuk respek terhadap masalah-masalah anak-anak didik dan pengembagannya dalam “ruang pendidikan”. Mendidik anak tidak bisa diserahkan dan dipertanggung jawabkan pada satu pihak. Kebersamaan dalam pendidikan adalah langkah dini kesadaran kita terhadap dunia anak didik.

Kepribadian bukanlah setumpuk keahlian mencari tean atau popularitas, atau adalah sesuatu yang mudah kita pakai dan melepasnya seperti celana dan baju. Kepribadian seorang manusia yang unik dan berbeda satu dengan yanglainnya melekat dalam dari pada kulit manusia. Cerminan kepribadian dapat terlihat dalam mental, sikap perilaku, sudut pandang dan pola pikir seseorang serta mengakar dalam tubuh dan jiwanya. Tapi kepribadian tidak terbentuk semenjak kita lahir5 hingga ia tak bisa diubah dan di “REYUNEVISASI (peremajaan kembali, red)”. Atau terbentuk dalam proses sehari selesai seperti kita mengurus surat-surat dan akta. Membangun dan membentuk kepribadian adalah karya luhur seumur hidup.

Kepribadian adalah pola menyeluruh semua kemampuan, perbuatan, dan kebiasaan-kebiasaan seseorang baik yang jasmani-rohani, mental, emosional dan solidaritas sosialnya sangat nampak dalam upaya manusia dalam membentuk dirinya seperti yang dikehendakinya menuju citra INSAN KAMIL yang bersifat Hanif dan humanis. Dalam point ini …., adanya kebersamaan mendidik dan tanggung jawabnya serta sikap partisipasi anak didik itu sendiri dalam mengembangkan kemampuan dan potensi diri mutlak diperlukan sinerginya untuk pencapai pencapaian target kedepan kita yaitu ; “MEMANUSIAKAN MANUSIA”. Apa jadinya jika tenaga pendidik sudah siap, tetapi tidak ada sikap Kooperatif dari para anak didik dan kesungguhannya untuk belajar dan belajar….???

Mencetak manusia-manusia unggul dengan kepribadian dan prestasi yang tinggi adalah “Dharma” seorang pendidik. Karena itu sebagai guru harus mampu memposisikan diri sebagai sosok yang Digugu dan Ditiru. Pada prakteknya guru bisa meleburkan diri batasan-batasan relasi guru dan murid, lalu membentuk relasi pertemaan yang indah dalam “menyelami” ceruk kepribadian dan karekter setiap muridnya.

Dengan menjadi guru yang digugu dan ditiru …, seorang guru dalam kerangka pengabdiannya kepada Tuhan dan sesama, lingkungan dan kehidupan sudah menjalankan Dharmanya sebagai pendidik yang berdedikasi penuh keikhlasan mentranformasi moral, ilmu dan keterampilan kepada manusia dan kehidupannya. Metamorfosis manusia dalam “ruang dan waktu” dan bangunan perada bannya adalah andil peran serta kepedulian karya luhur guru bangsa, yang tidak bisa dinafikan perjuangannya sebagai subjec independen yang menjadi ujung tombak bagi suksesnya pendidikan yang ditandai oleh kualitas pendidikan yang bermutu dan diserap olehy anak didik. Simbolisasi guru dari masya rakat dan negara sebagai sosok “Pahlawan Tanpa Tanda Jasa” mudah-mudahan kedepan kebijakan Pemerintah mengiringinya dengan “jaminan hidup kesejahteraan hidup guru yang memadai dan mencukupi. Karena apapun, siapa pun dan bagaimanapun seorang guru…, guru juga tetap seorang manusia dengan segala kelebihan dan kekurangannya. Apa jadinya jika bangsa ini tanpa guru yang mau mengajari anak-anak bangsa dalam ilmu baca tulis dan moralitas

  1. Belum ada komentar.
  1. No trackbacks yet.

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s

%d blogger menyukai ini: